Kemampuan Afiksasi Pemelajar Bipa 2 Cape Town Dalam Memproduksi Teks Berbasis Budaya Indonesia
Main Article Content
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan afiksasi pemelajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) Level 2 di KJRI Cape Town dalam memproduksi teks berbasis budaya Indonesia. Penelitian menggunakan metode kualitatif yang mendeskripsikan kemampuan afiksasi pemelajar dalam menghasilkan teks. Data dalam penelitian ini berupa penggunaan berbagai bentuk afiks dalam teks berbasis budaya yang dihasilkan oleh pemelajar BIPA Level 2 di KJRI Cape Town. Adapun sumber data diperoleh dari teks tulisan tujuh pemelajar BIPA Level 2 KJRI Cape Town yang mengikuti kelas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada tahun 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemelajar BIPA Level 2 memiliki kemampuan bervariasi dalam penggunaan afiks. Dari tujuh pemelajar yang diteliti, satu pemelajar menunjukkan kemampuan "Baik Sekali" dengan ketepatan penggunaan afiks sebesar 88%, tiga pemelajar berada pada kategori "Baik" dengan persentase antara 79,2% hingga 85%, sementara tiga pemelajar lainnya berada pada kategori "Cukup" dengan persentase antara 65% hingga 68%. Afiks yang paling sering digunakan adalah prefiks me- (30,8%) dan ber- (26,9%), yang telah diperkenalkan pada level BIPA 1 sebagaimana ditentukan dalam Permendikbud No. 27 tahun 2017. Sebaliknya, afiks yang lebih kompleks seperti sufiks -kan (11,5%), sufiks -i (9,6%), konfiks ke-an (7,7%), dan per-an (4,8%). Kemampuan afiksasi pemelajar BIPA Level 2 di KJRI Cape Town dalam memproduksi teks berbasis budaya Indonesia tergolong bervariasi, dengan mayoritas pemelajar berada pada kategori "Baik" dan "Cukup". Afiks yang paling dominan digunakan adalah prefiks me- dan ber- yang telah diajarkan pada level sebelumnya, sementara penggunaan afiks yang lebih kompleks masih terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pemelajar telah mengenal afiks dasar dengan baik, mereka masih mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan bentuk afiks yang lebih kompleks dalam konteks produksi teks. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam perancangan pembelajaran afiksasi yang lebih terstruktur dan bertahap sesuai dengan level kompetensi pemelajar.