DARI KESEPIAN MENUJU SPIRITUALITAS: KAJIAN STILISTIKA DAN SEMIOTIKA ANTOLOGI PUISI TAK ADA YANG LEBIH SEPI DARI AKU KARYA KOMUNITAS GURU MENULIS INDONESIA

Main Article Content

Ai Fitri Padilah
Asep Nurjamin
Didin Sahidin

Abstract

Sebagai korpus sastra kontemporer bertanda ISBN, antologi Tak Ada yang Lebih Sepi dari Aku terbitan Komunitas Guru Menulis Indonesia masih jarang disentuh telaah ilmiah. Tujuan penelitian ini ialah memerikan (1) ciri stilistis antologi yang meliputi pilihan kata, majas, dan pencitraan; (2) tata tanda semiotik yang terdiri atas ikon, indeks, serta simbol; dan (3)
pertautan kedua lapis itu ketika makna puitik dibentuk. Kerangka kerja yang dipakai bersifat deskriptif kualitatif berteknik analisis isi. Sebanyak lima belas sajak ditetapkan lewat pertimbangan tertentu, lalu ditelaah melalui pembacaan heuristik sekaligus hermeneutik dengan bertumpu pada teori stilistika Leech (1969) dan trikotomi tanda Charles Sanders Peirce. Penelaahan memperlihatkan bahwa pilihan kata bercorak konotatif, emotif, dan keagamaan mendominasi; majas yang menonjol mencakup metafora, personifikasi, repetisi, simile, hiperbola, serta paradoks; sedangkan pencitraan bergerak pada ranah penglihatan, pendengaran, rasa, dan kerohanian. Di antara ketiga tanda, simbol tampil paling menonjol—cahaya, pelita, sunyi, dan sepertiga malam—yang disokong indeks bermuatan emosi (tangis, kesunyian, kerinduan) serta ikon berupa benda konkret (bintang, langit, hujan, dinding). Dua pokok temuan konseptual layak digarisbawahi. Pertama, kedua tataran itu bekerja bertaut: sebuah ungkapan tunggal—umpamanya suaramu adalah pelita—sekaligus menjadi metafora di sisi bentuk dan simbol pengharapan di sisi makna. Kedua, terbaca alur makna yang ajeg, bermula dari kesepian dan keterasingan jiwa lalu bermuara pada pengharapan dan kerohanian, yang dihadirkan lewat lambang cahaya, pelita, dan sepertiga malam. Dengan temuan itu, kajian ini turut memperkaya pemahaman atas sajak para guru penulis masa kini sekaligus mengusulkan pendayagunaan hasilnya sebagai bahan telaah dan pengajaran sastra. 

Article Details

Section
Articles