DIPLOMASI BUDAYA INDONESIA MELALUI PEMBELAJARAN BIPA BERMUATAN KEARIFAN LOKAL SUMATERA UTARA: STRATEGI PENGUATAN SOFT POWER INDONESIA
Main Article Content
Abstract
Globalisasi telah mengubah paradigma hubungan internasional dari penggunaan kekuatan koersif (hard power) menuju pemanfaatan daya tarik budaya (soft power) sebagai instrumen diplomasi publik. Dalam konteks tersebut, bahasa berfungsi tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media penyebaran nilai budaya, identitas nasional, dan citra suatu bangsa. Indonesia telah mengembangkan Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai salah satu instrumen diplomasi bahasa. Namun, implementasi pembelajaran BIPA masih didominasi oleh representasi budaya nasional secara umum, sementara potensi kearifan lokal sebagai aset diplomasi budaya belum dimanfaatkan secara optimal. Artikel ini bertujuan menganalisis peran
pembelajaran BIPA bermuatan kearifan lokal Sumatera Utara sebagai strategi penguatan soft power Indonesia sekaligus merumuskan model konseptual diplomasi budaya berbasis BIPA. Penelitian menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengkaji artikel ilmiah, buku, dokumen kebijakan, dan laporan internasional yang relevan mengenai diplomasi budaya, diplomasi bahasa, soft power, komunikasi antarbudaya, serta pembelajaran BIPA. Analisis dilakukan melalui thematic content analysis untuk mengidentifikasi hubungan antara bahasa, budaya lokal, dan diplomasi publik. Hasil kajian menunjukkan
bahwa budaya Sumatera Utara memiliki modal diplomasi yang kuat melalui warisan budaya takbenda, kuliner tradisional, seni pertunjukan, cerita rakyat, dan nilai-nilai sosial yang dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran BIPA. Integrasi tersebut tidak hanya meningkatkan kompetensi komunikatif pembelajar asing, tetapi juga memperkuat pemahaman lintas budaya serta membangun citra positif Indonesia di tingkat global. Artikel ini menawarkan North Sumatra Cultural Diplomacy Model (NSCDM) sebagai model konseptual yang menghubungkan kearifan lokal, pembelajaran BIPA, komunikasi antarbudaya, diplomasi budaya,
dan soft power Indonesia.