REPRESENTASI KETERAMPILAN BERBICARA MULTIMODAL MAHASISWA SANTRI DALAM DISKUSI KELAS

Main Article Content

Kholik

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh temuan lapangan bahwa mahasiswa berlatar belakang santri di Universitas Al-Qolam Malang menunjukkan keunggulan keterampilan berbicara, berdiskusi, dan berdebat yang konsisten di ruang kelas lintas program studi. Fenomena ini diduga berakar pada tradisi akademik pesantren seperti Bahtsul Masail dan Syawir, namun belum banyak dikaji dari perspektif multimodal. Penelitian bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis representasi keterampilan berbicara mahasiswa santri sebagai fenomena wacana multimodal melalui lima lapis kerangka teoretis: tindakan komunikatif Habermas, argumentasi Toulmin, multimodalitas Kress dan van Leeuwen, wacana kritis Fairclough, serta keterampilan berbicara akademik Tarigan/Brown. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Multimodal dan Analisis Wacana Kritis, melibatkan observasi partisipan, dokumentasi audio-visual, dan wawancara stimulated recall pada tiga sesi mata kuliah di Program Studi Tadris Bahasa Indonesia, Tadris Bahasa Inggris, dan Tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Qolam Malang. Hasil observasi partisipan menunjukkan rerata skor realisasi multimodal tertinggi pada Tadris Bahasa Inggris (3,81), diikuti Tadris Matematika (3,73), dan Tadris Bahasa Indonesia (3,04), dari skala 4. Data transkripsi multimodal dan wawancara stimulated recall pada ketiga program studi secara konsisten mengonfirmasi bahwa mahasiswa santri secara sadar mengadaptasi struktur Bahtsul Masail (Tashawwur, Istidlal, Ibarat) ke dalam struktur claim-data-warrant-backing, serta mempelajari gestur dan prosodi berargumentasi melalui peniruan terhadap kiai/ustaz di pesantren pola yang bertransfer secara konsisten lintas register keilmuan, meski dengan tantangan alih-kode yang berbeda: religius-Indonesia pada Tadris Bahasa Indonesia, trilingual Arab-Inggris-Indonesia pada Tadris Bahasa Inggris, dan simbolis-teknis pada Tadris Matematika. Temuan ini mengonfirmasi bahwa habitus komunikatif pesantren dikonversi secara fungsional menjadi modal budaya yang adaptif dan bervariasi menurut konteks register akademik, berlangsung dalam iklim rasionalitas komunikatif yang berorientasi konsensus, dengan relasi kuasa yang bergeser dari hierarki senioritas menjadi meritokrasi berbasis penguasaan argumen. 

Article Details

Section
Articles