REPRESENTASI PEREMPUAN, IDENTITAS BUDAYA, DAN KESETARAAN GENDER DALAM MATERI PEMBELAJARAN BIPA DI MONASH UNIVERSITY: KAJIAN ANALISIS WACANA KRITIS

Main Article Content

Kundharu Saddhono
Muhammad Rohmadi
Ani Rakhmawati

Abstract

Penelitian ini mengkaji representasi perempuan, identitas budaya, dan kesetaraan gender dalam materi pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Monash University, Australia, dengan menggunakan kerangka Analisis Wacana Kritis (AWK) Norman Fairclough. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana perempuan direpresentasikan melalui pilihan kebahasaan, peran sosial, praktik budaya, dan identitas profesional, serta bagaimana ideologi gender dan nilai-nilai budaya direproduksi melalui materi pembelajaran BIPA. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data berupa buku teks BIPA, modul pembelajaran, materi bacaan, dialog, latihan, ilustrasi visual, dan materi pendukung yang digunakan dalam konteks pembelajaran. Data dipilih secara purposif dan dianalisis melalui tiga dimensi AWK Fairclough, yaitu analisis tekstual, praktik kewacanaan, dan praktik sosiokultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan direpresentasikan dalam berbagai ranah, termasuk keluarga, pendidikan, pekerjaan, aktivitas kuliner, pariwisata, dan tradisi budaya. Namun, masih terdapat kesenjangan agensi, yaitu perempuan lebih sering dikaitkan dengan peran domestik, pelestarian budaya, dan aktivitas pendukung, sedangkan laki-laki lebih dominan direpresentasikan sebagai pemimpin, pengusaha, peneliti, pengambil keputusan, dan profesional strategis. Identitas budaya perempuan sebagian besar dikonstruksi melalui narasi keberagaman budaya, kesopanan, nilai-nilai keluarga, gotong royong, dan pelestarian tradisi. Meskipun telah muncul representasi perempuan sebagai profesional, akademisi, pengusaha, dan aktor publik, representasi tersebut masih bersifat parsial dan belum konsisten. Temuan penelitian menunjukkan bahwa materi BIPA tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembelajaran bahasa, tetapi juga sebagai instrumen budaya dan ideologis yang membentuk persepsi pembelajar internasional terhadap masyarakat Indonesia. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan materi BIPA yang responsif gender, inklusif, dan merepresentasikan budaya secara dinamis untuk memperkuat agensi perempuan sekaligus mempertahankan identitas budaya Indonesia. Pendekatan tersebut dapat meningkatkan peran BIPA sebagai instrumen diplomasi budaya yang inklusif serta mendukung pencapaian SDG 4 dan SDG 5. 

Article Details

Section
Articles