ANALISIS KEBUTUHAN MODEL PEMBELAJARAN JURNALISTIK INKLUSIF BERBASIS MEDIA DIGITAL BERKEARIFAN LOKAL BAGI SISWA DISABILITAS MENTAL
Main Article Content
Abstract
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa disabilitas mental memerlukan model yang adaptif, kontekstual, dan mampu mengembangkan keterampilan komunikasi sesuai karakteristik peserta didik. Perkembangan media digital serta pentingnya pelestarian kearifan lokal menjadi peluang untuk mengembangkan model pembelajaran jurnalistik inklusif yang mendukung peningkatan kemampuan menulis, berkomunikasi, dan partisipasi sosial siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan model pembelajaran jurnalistik inklusif berbasis media digital berkearifan lokal bagi siswa disabilitas mental di Kudus Jawa Tengah. Subjek penelitian di empat Sekolah Luar Biasa (SLB), yaitu SLB Kaliwungu Kudus, SLB Cendono, SLB Sunan Muria, dan SLB Purwosari. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis kebutuhan (needs analysis). Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan guru, kepala sekolah, dan siswa, serta studi dokumentasi. Data dianalisis menggunakan teknik analisis interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah membutuhkan: (1) model pembelajaran jurnalistik inklusif yang dilengkapi media digital sebagai sarana pembelajaran yang menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan karakteristik siswa; (2) model pembelajaran Bahasa
Indonesia berbasis pengembangan soft skill, terutama keterampilan menulis dan komunikasi untuk meningkatkan kemampuan literasi dan interaksi sosial; (3) model yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal sebagai sumber belajar agar materi lebih dekat dengan pengalaman siswa; serta (4) model dengan pendekatan kontekstual yang menghubungkan pengalaman nyata siswa dengan aktivitas jurnalistik sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Disimpulkan bahwa pengembangan model pembelajaran jurnalistik inklusif berbasis media digital berkearifan lokal sangat dibutuhkan sebagai inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa disabilitas mental. Model ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi literasi, keterampilan komunikasi, soft skill, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran secara optimal.