TRAUMA EKOLOGIS PASCATAMBANG TIMAH DALAM SASTRA BANGKA BELITUNG: REPRESENTASI LUKA ALAM DAN KRISIS IDENTITAS MASYARAKAT

Main Article Content

Muhammad Rozani
Nela Oktarina
Lasmi Hartati

Abstract

 Eksploitasi timah yang berlangsung secara masif di Bangka Belitung telah
mengakibatkan perubahan bentang alam yang berdampak tidak hanya pada
kerusakan lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial dan budaya
masyarakat. Pengalaman tersebut terekam dalam karya sastra sebagai
representasi trauma ekologis yang merefleksikan hubungan manusia dengan
alam pascaeksploitasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi
trauma ekologis pascatambang timah dalam sastra Bangka Belitung dengan
memfokuskan pada representasi luka alam, hilangnya ruang hidup, dan krisis
identitas masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain deskriptif-interpretatif melalui perspektif ekokritik yang dipadukan
dengan teori trauma ekologis dan krisis identitas. Sumber data berupa puisipuisi bertema lingkungan dalam antologi puisi lingkungan hidup Kelekak yang
dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Pengumpulan data dilakukan melalui
studi pustaka, teknik baca dan catat, kemudian diklasifikasikan berdasarkan
kategori trauma ekologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma ekologis
direpresentasikan melalui tiga bentuk utama, yaitu (1) luka ekologis berupa
kerusakan hutan, sungai, laut, dan lahan akibat pertambangan timah; (2)
hilangnya ruang hidup yang memunculkan pengalaman solastalgia sebagai
bentuk kehilangan emosional terhadap lingkungan; dan (3) krisis identitas
masyarakat akibat berubahnya lanskap ekologis yang selama ini menjadi
penanda budaya lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sastra Bangka
Belitung tidak hanya merepresentasikan dampak fisik pertambangan timah,
tetapi juga mengungkap trauma ekologis sebagai pengalaman kolektif yang
menghubungkan kerusakan lingkungan dengan identitas dan keberlanjutan
budaya masyarakat. 

Article Details

Section
Articles