JEJAK MANDARIN DI UJUNG KATA: REALISASI GLOTAL KONSONAN HAMBAT PADA PEMELAJAR BIPA ASAL TIONGKOK
Main Article Content
Abstract
Interferensi fonologis kerap menjadi kendala dalam pemerolehan bahasa Indonesia oleh pemelajar asing. Kendala ini muncul ketika sistem bunyi bahasa pertama berbeda dari bahasa Indonesia. Penelitian ini berfokus pada realisasi konsonan hambat /t/ dan /p/ di posisi akhir kata (koda) dalam pelafalan bahasa Indonesia oleh pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) asal Tiongkok. Tujuannya mendeskripsikan bentuk realisasi tersebut dan menjelaskan penyebabnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber datanya sembilan pemelajar BIPA berbahasa pertama Mandarin di Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta. Data dikumpulkan melalui daftar kata bermuatan konsonan hambat akhir yang dibacakan dan direkam, lalu ditranskripsi dan dianalisis secara kontrastif. Hasil penelitian menunjukkan 30 data, yaitu 20 kata berkoda /t/ dan 10 kata berkoda /p/, yang seluruhnya direalisasikan dengan hambat glotal [ʔ]. Konsonan hambat oral /t/ dan /p/ kehilangan artikulasi oralnya dan berganti menjadi hambat glotal, proses yang dikenal sebagai debukalisasi. Penyebabnya adalah perbedaan fonotaktik. Bahasa Mandarin tidak mengizinkan konsonan hambat oral menempati koda, sedangkan bahasa Indonesia mengizinkannya. Pola ini diduga diperkuat oleh kebiasaan bahasa Indonesia yang melafalkan /k/ akhir sebagai [ʔ], sehingga pemelajar memperluasnya ke /t/ dan /p/. Oleh karena itu, pengajaran BIPA bagi pemelajar Tiongkok perlu menekankan artikulasi konsonan hambat oral di akhir kata secara eksplisit.