MITOS ASAL-USUL NAMA TEMPAT MASYARAKAT KABETAN, TOLITOLI: NEGOSIASI MEMORI KOLEKTIF DAN KEDAULATAN BUDAYA DALAM SASTRA LISAN NUSANTARA
Main Article Content
Abstract
Sastra lisan daerah merupakan bagian tak terpisahkan dari khazanah sastra Indonesia, tetapi folklor masyarakat kepulauan di kawasan timur, termasuk Kabetan di Kabupaten Tolitoli, nyaris belum terdokumentasi secara akademik dan terancam oleh melemahnya transmisi antargenerasi. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan struktur dan makna mitos asalusul serta legenda nama tempat masyarakat Kabetan, menganalisis fungsi sosial dan dimensi kekuasaan simbolik di dalamnya, menjelaskan bagaimana variasi antarpenutur mencerminkan proses negosiasi memori kolektif, dan menegaskan nilai apresiatifnya bagi penguatan identitas sastra Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode folkloristik-deskriptif; data dihimpun melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi terhadap penutur di Desa Kabetan, Kecamatan Ogodeide, lalu dianalisis dengan kerangka struktural (Lévi, 1963; Propp, 1968) semiotik (Welch et al., 1973), dan memori kolektif (Connerton, 1989; 고시, 1992) dengan triangulasi sumber dan metode untuk menjaga keabsahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos terbentuknya Pulau Tiga dibangun di atas oposisi biner (darat–laut, hidup–mati, sadar–tak sadar) dan menautkan ruang fisik dengan makna kultural melalui transformasi tokoh menjadi pulau, sementara legenda etimologis "Kabetan", "kukosuai", dan "kampung gaib" memfungsikan nama tempat sebagai penyimpan sejarah sosial dan penanda identitas. Secara konseptual, penelitian ini menunjukkan bahwa legenda "kampung gaib" beroperasi sebagai narasi kekuasaan simbolik dan kedaulatan budaya — bentuk perlawanan tersembunyi terhadap kekuasaan kolonial yang disandikan melalui bahasa gaib, sejalan dengan pola resistensi berbasis tradisi lisan pada komunitas adat Indonesia lainnya. Penelitian juga menangkap secara langsung (in vivo) satu peristiwa koreksi antarpenutur yang memunculkan versi "yang diperbaiki", memperlihatkan tradisi lisan Kabetan sebagai sistem yang hidup dan terus dinegosiasikan, bukan teks beku. Penelitian menyimpulkan bahwa apresiasi atas sastra lisan Kabetan memperkaya identitas sastra Indonesia dan mendukung strategi pelestarian bahasa dan sastra daerah dalam bingkai keindonesiaan.