FRAGMENTASI TERMINOLOGI BIPA: MENYOAL IDENTITAS NOMENKLATUR BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING DALAM PUBLIKASI PENELITIAN INTERNASIONAL

Main Article Content

Sophia Rahmawati
Diah Octavia Kusuma Wardani

Abstract

Peningkatan minat pembelajaran bahasa Indonesia di berbagai negara turut mendorong berkembangnya Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) sebagai bidang kajian yang semakin diperhitungkan dalam forum akademik internasional. Semakin luas dan intensifnya praktik pembelajaran suatu bahasa di ranah internasional menuntut ketersediaan penelitian yang memadai untuk mengiringi dan mengevaluasi praktik tersebut secara akademik, sehingga publikasi ilmiah bertema BIPA turut mengalami peningkatan volume pada forum internasional dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ketika bidang ini memasuki ranah publikasi ilmiah bertaraf global, kedudukan istilah BIPA sebagai representasi tunggal bidang kajian ternyata belum sepenuhnya kokoh, berbeda dengan TESOL maupun HSK yang telah lama mapan sebagai identitas tunggal pada bidang serumpun. Bertolak dari persoalan tersebut, penelitian ini bertujuan memetakan pola frekuensi dan distribusi istilah yang digunakan untuk merepresentasikan BIPA dalam judul publikasi internasional, menjelaskan pola ko-okurensi antaristilah, serta mendiskusikan implikasinya terhadap identitas keilmuan dan agenda standardisasi istilah BIPA pada tingkat global. Kajian bibliometrik terhadap artikel terindeks Scopus periode 2020–2026, yang diseleksi melalui alur PRISMA hingga menghasilkan 43 artikel jurnal yang
memenuhi kriteria kelayakan dari 64 dokumen awal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah BIPA mendominasi 65,12% korpus dan terus menguat sejak 2021, tetapi sepertiga publikasi lainnya masih terdistribusi ke dalam enam varian istilah berbeda, bahkan tujuh artikel menggunakan dua istilah sekaligus dalam judul yang sama, mengindikasikan tarik-menarik antara upaya mempertahankan istilah lokal dan tuntutan keterlacakan global. Temuan ini menegaskan bahwa BIPA tengah berada pada tahap transisi penting dalam pembentukan identitas kelembagaannya di ranah internasional, sehingga standardisasi nomenklatur perlu segera menjadi agenda strategis bagi komunitas akademik dan pemangku kebijakan kebahasaan, sementara penelitian lanjutan disarankan memperluas cakupan basis  data guna menguji konsistensi pola ini secara lintas basis data pengindeksan. 

Article Details

Section
Articles