PENGUATAN LITERASI SASTRA MELALUI MENULIS FIKSI BERBASIS CULTURALLY RESPONSIVE TEACHING DAN DEEP LEARNING
Main Article Content
Abstract
Pengembangan literasi sastra pada siswa sekolah dasar sebaiknya tidak hanya difokuskan pada kemampuan memahami teks, tetapi juga pada kemampuan untuk mengekspresikan pengalaman, imajinasi, dan pemaknaan dalam menciptakan karya sastra. Pembelajaran menulis fiksi yang berhubungan erat dengan pengalaman budaya siswa dapat menciptakan proses literasi yang lebih autentik dan bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penguatan literasi sastra melalui pembelajaran menulis fiksi yang berbasis pada Culturally Responsive Teaching dan Deep Learning di kalangan siswa sekolah dasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus yang dilengkapi dengan data kuantitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari 25 siswa, dengan data yang diambil dari 25 karya fiksi dan skor keterampilan menulis. Data dikumpulkan melalui tugas menulis fiksi dan dokumentasi karya. Data kualitatif dianalisis dengan cara mengidentifikasi, mengkategorikan, dan menginterpretasi tema, representasi budaya, kreativitas, serta konstruksi makna, sementara data kuantitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai keterampilan menulis fiksi siswa adalah 76,8. Karya siswa menggambarkan budaya Surabaya dalam tiga kategori: warisan gastronomi sebanyak 16 karya (64%), sejarah dan ikon kota sebanyak 7 karya (28%), serta seni budaya sebanyak 2 karya (8%). Analisis karya menunjukkan bahwa representasi budaya berfungsi sebagai objek pengetahuan, pengalaman pribadi, dan sumber konstruksi makna dalam fiksi. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi Culturally Responsive Teaching dan Deep Learning memperkuat literasi sastra dengan mengaitkan pengalaman budaya autentik dengan proses kreatif, reflektif, dan konstruksi makna dalam menulis fiksi.