KESINTASAN SENI BUDAYA TABUT SEBAGAI WARISAN LELUHUR: DIALEKTIKA APRESIASI DAN INTERVENSI
Main Article Content
Abstract
Keberlangsungan tradisi lokal menghadapi tantangan dalam perubahan sosial budaya masyarakat modern karena berpotensi menyebabkan berkurangnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai budaya leluhur. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan dan dilaksanakan setiap tahun oleh masyarakat Bengkulu adalah Ritual Tabut. Meskipun mengalami dinamika, pasang surut, dan perdebatan dari berbagai pihak, kelompok masyarakat yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan ritual tersebut tetap mempertahankannya. Artikel ini bertujuan menjelaskan kesintasan Kerukunan Keluarga Tabut (KKT) Bengkulu dalam mempertahankan Ritual Tabut sebagai tradisi budaya masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktural fungsional Talcott Parsons melalui skema AGIL, yaitu adaptation, goal attainment, integration, dan latency. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesintasan ritual Tabut dipertahankan melalui kemampuan KKT menjalankan empat fungsi AGIL, yaitu melakukan adaptasi terhadap perubahan sosial, mempertahankan tujuan pelestarian tradisi, membangun integrasi dengan pemerintah dan masyarakat, serta melakukan pewarisan nilai budaya kepada generasi muda. Ritual Tabut mengandung nilai historis, religius, dan sosial yang berkaitan dengan penghormatan terhadap peristiwa Karbala serta berkembang sebagai identitas budaya masyarakat Bengkulu, di samping sebagai pengingat atas perjuangan dan syahidnya Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, kesintasan ritual Tabut menunjukkan bahwa keberlangsungan suatu tradisi tidak hanya bergantung pada pewarisan nilai leluhur, tetapi juga pada kemampuan komunitas pendukungnya dalam menghadapi perubahan sosial budaya.