MENEMBUS BATAS PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA: KONSTRUKSI PERINTAH PROMPT AI BERBASIS PENALARAN KRITIS
Main Article Content
Abstract
Integrasi Generative AI dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
menghadapi tantangan berupa tingginya tingkat adopsi teknologi yang
belum seimbang dengan kemampuan berpikir kritis digital peserta didik.
Ketergantungan pada perintah sederhana berisiko memicu fenomena malas
berpikir (cognitive offloading) yang mendegradasi esensi pemrosesan
bahasa dan apresiasi sastra secara mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk
menginvestigasi tipologi perintah prompt serta merumuskan kerangka kerja
rekayasa prompt berbasis penalaran kritis dalam pembelajaran Bahasa dan
Sastra Indonesia. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif
dengan jenis analisis konten kualitatif terhadap 120 korpus dokumen
prompt, transkrip wawancara semi-terstruktur, dan lembar observasi
interaksi kelas. Analisis data dilaksanakan secara interaktif menggunakan
peranti lunak NVivo 14. Hasil penelitian mengungkapkan dua temuan
utama. Pertama, teridentifikasi tipologi prompt yang didominasi oleh
kategori Prompt Generik-Reseptif (72,5%) yang berorientasi hasil instan
dan hanya mengaktifkan Lower Order Thinking Skills (LOTS), sementara
kategori Prompt Dialogis-Kritis hanya mencapai 27,5%. Kedua,
terformulasikannya Cognitive-Driven Prompting Framework (CDPF) yang
mengintegrasikan lima elemen struktural (Persona & Role, Contextual
Parameter, Critical Directive, Methodological Constraint, dan Reflective Loop)
dengan indikator penalaran kritis untuk memicu Higher Order Thinking
Skills (HOTS). Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan CDPF berhasil
mereorientasi AI dari sekadar mesin penyaji jawaban instan menjadi More
Knowledgeable Other (MKO) Dialektis dan perancah (scaffold) metakognitif
di dalam Zone of Proximal Development (ZPD) siswa. Kerangka ini terbukti
efektif mengembalikan kendali epistemologis dan daya nalar kritis ke
tangan peserta didik dalam ekosistem pembelajaran bahasa digital.