Tradisi Batanung Sebagai Kepercayaan Penyembuhan Penyakit (Studi Pengobatan Alternatif di Desa Batang Alai Kab. Hst)

Main Article Content

Heppy Lismayanti
Noor Indah Wulandari
Noor Leha

Abstract

Mitos sebagai bagian dari sastra lisan genre lama, dalam hal ini masyarakat Dayak Meratus mempercayai bahwa selain pengobatan medis ada pengobatan tradisional yang bisa membantu dalam proses penyembuhan. Tradisi Batanung merupakan prosesi adat yang dilakukan oleh warga Batang Alai (Dayak Meratus) untuk mengetahui penyakit apa yang sedang diderita. Biasanya Batanung dilakukan apabila sudah tidak ada lagi jalan untuk pengobatan secara medis ataupun lainya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk: (1) mendeskripsikan bagaimana tradisi Batanung dapat menyembuhkan penyakit di Desa Labuhan, kab. HST, dan (2) mendeskripsikan makna dan symbol peralatan dalam proses Batanung sebagai kepercayaan penyembuhan penyakit di Desa Labuhan, kab. HST. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan etnografi, menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan sumber data informan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif. Keabsahan data dilakukan berdasarkan teori Moleong yakni trianggulasi metode dan teori. Hasil dalam penelitian diketahui bahwa tradisi Batanung dilakukan melalui tahapan pihak keluarga minta pendapat (bahundangan) kepada pemuka adat (sandaran Balian), masyarakat ikut mencari daun enau, bunga ungkun, dan lain-lain. Ritual ini dilaksanakan malam hari setelah para sandaran Balian terkumpul, selanjutnya batandik (menari) menyelaraskan bunyi gendang dan gelang hiyang. Adapun peralatan yang digunakan dalam ritual adalah: (1)titimang batis (gendang), (2) sasalung jari (gelang hiyang, (3) baras babayuan (beras di dalam bakul), (4) pirak banama ( manik-manik dari batu), (5) tapih 2 lembar (sarung 2 lembar), (6) keris, (7) langgatan (anyaman daun enau muda), (8) laung (penutup kepala dari kain), (9) kapur oles, (10) minyak kelapa, (11) daun segar, (12) ciciri (mangkok kecil turun temurun), (13) babat (pengikat pinggang dari kain), (14) bunga ungkun (sejenis kemangi), dan (15) giling pinang (daun sirih, kapur, tembakau, gambir, dan pinang).

Article Details

Section
Articles