Gastrokritik Sastra Sebagai Strategi diplomasi Pangan: Kajian Sastra Dalam Rangka Swasembada Pangan Berbasis Sastra
Main Article Content
Abstract
Karya sastra dapat menjadi medium diplomasi untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan nasional akibat ketergantungan impor dan degradasi nilai budaya pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi karya sastra sebagai instrumen diplomasi pangan berbasis budaya dalam mendukung swasembada pangan sehingga dapat membentuk kesadaran kolektif terhadap pentingnya pangan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis data deskriptif. Teori yang digunakan adalah gastrokritik Ronald Halligan untuk menganalisis berbagai teks sastra berupa novel, puisi, cerpen, dan cerita rakyat yang mengandung narasi makanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makanan dalam teks sastra mengandung makna simbolik yang mencerminkan identitas budaya, memori kolektif, kritik terhadap sistem pangan global, serta kesadaran terhadap ekologi lokal. Representasi kuliner dalam karya sastra mencerminkan nilai spiritualitas, sejarah komunitas, dan narasi keberlanjutan yang dapat dimanfaatkan dalam strategi soft power melalui diplomasi budaya. Dengan demikian, sastra memiliki kekuatan naratif untuk membangun pemahaman budaya dan mempromosikan kedaulatan pangan. Melalui narasi kuliner dalam sastra, masyarakat dapat diajak untuk membangun relasi baru dengan pangan lokal, memperkuat ketahanan pangan melalui kesadaran kolektif, serta menjadikan sastra sebagai bagian integral dari strategi diplomasi budaya Indonesia.