Toponimi Sebagai Representasi Nilai Lokal Dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon: Telaah Hermeneutik
Main Article Content
Abstract
Toponimi tidak sekadar menjadi penanda lokasi geografis, tetapi juga mencerminkan sistem nilai, kepercayaan, dan memori kolektif masyarakat. Dalam konteks teks tradisional seperti Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon, penamaan tempat mengandung narasi-narasi simbolik yang merekam sejarah lokal, spiritualitas, dan identitas kultural masyarakat Jawa-Sunda. Namun, dimensi makna dari toponimi tersebut sering kali terlewatkan dalam kajian filologis konvensional yang lebih berfokus pada aspek kebahasaan atau kronologis semata.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna toponimi dalam teks Babad Tanah Sunda dan Babad Cirebon sebagai representasi nilai- nilai lokal masyarakat Cirebon melalui pendekatan hermeneutik Paul Ricoeur. Toponimi atau penamaan tempat dalam teks babad tidak hanya berfungsi sebagai penanda geografis, melainkan juga sebagai representasi kultural, spiritual, dan historis yang hidup dalam memori kolektif masyarakat. Kajian ini berfokus pada delapan toponim penting yang muncul dalam teks, yaitu Karang Getas, Syekh Magelung, Sukalila, Jagabayan, Karang Kendal, Kapetakan, Astana Pamlaten (Kemlaten), dan Winduhaji. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis hermeneutik tiga tahap (mimesis I, II, dan III) untuk menafsirkan makna toponim dalam struktur narasi dan konteks sosial-budaya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap toponim menyimpan narasi simbolik tentang perjuangan, spiritualitas, transformasi, dan penghormatan terhadap tokoh atau peristiwa penting. Misalnya, Kapetakan berasal dari kisah transformasi Jaka Supetak, Astana Pamlaten mengandung unsur kesucian yang diasosiasikan dengan bunga melati, dan Winduhaji berasal dari nama kuda legendaris milik Adipati Kuningan. Penamaan tempat tersebut tidak terlepas dari proses folklorisasi dan sakralisasi ruang, yang merefleksikan cara masyarakat membentuk identitas lokalnya. Dalam konteks masyarakat modern, pemaknaan ulang toponim ini menjadi penting untuk penguatan pendidikan karakter, pelestarian kearifan lokal, serta pemahaman sejarah berbasis narasi budaya. Dengan menggabungkan pendekatan toponimi dan hermeneutik, penelitian ini menegaskan bahwa teks babad bukan hanya warisan sastra, tetapi juga media penting dalam menjaga kesinambungan identitas kolektif dan nilai- nilai sosial budaya di tengah arus transformasi modernitas.