Pembelajaran Sastra Dengan Pendekatan Respons Pembaca Pada Novel Indonesia: dialektika Nilai, Mobilitas, dan Identitas Kultural
Main Article Content
Abstract
Artikel ini mengkaji pembelajaran sastra dengan pendekatan respons pembaca melalui analisis tema pendidikan dan sosial dalam novel-novel Andrea Hirata (Laskar Pelangi dan Edensor) serta Para Priyayi karya Umar Kayam. Kedua karya ini mengangkat narasi perjuangan individu dari kelas sosial bawah dan elite dalam mengakses pendidikan sebagai sarana mobilitas sosial dan pembentukan identitas kultural. Dengan menggunakan teori respons pembaca dari Louise Rosenblatt, Stanley Fish, dan Norman Holland , serta kerangka sosiologi pendidikan Pierre Bourdieu, artikel ini menempatkan mahasiswa sebagai pembaca aktif yang membawa pengalaman hidup mereka dalam memaknai teks. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis respons siswa terhadap karya sastra bertema pendidikan dan sosial secara afektif dan reflektif; (2) mengidentifikasi tema nilai, mobilitas sosial, dan identitas dalam dua novel besar Indonesia; (3) mengembangkan model pembelajaran sastra berbasis teknologi AI; dan (4) memberikan kontribusi pada penguatan pembelajaran kontekstual sesuai Kurikulum Merdeka. Pendekatan ini menekankan pentingnya keterlibatan afektif dan reflektif siswa dalam merespons cerita. Tokoh-tokoh seperti Ikal dan Lintang dalam Laskar Pelangi maupun Sastrodarsono dalam Para Priyayi menjadi cermin dan tantangan bagi siswa untuk merefleksikan posisi mereka dalam struktur sosial. Dengan integrasi teknologi AI, pembelajaran dapat dipersonalisasi melalui pemetaan emosi, diskusi komunitas interpretatif, serta penilaian kreatif berbasis respons mahasiswa. Studi ini menyimpulkan bahwa pendekatan respons pembaca tidak hanya meningkatkan pemahaman sastra, tetapi juga membangun kesadaran kritis mahasiswa dan siswa terhadap ketimpangan sosial, nilai-nilai budaya, dan makna pendidikan. Pembelajaran sastra menjadi sarana dialektika antara teks, pembaca, dan realitas sosial yang mereka alami, sehingga lebih kontekstual, humanis, dan transformatif.